
Zero Party Data vs First Party Data! Buat kamu yang baru banget terjun ke dunia digital marketing atau baru mulai belajar jadi social media specialist, pasti mulai akrab dengan istilah-istilah data pelanggan.
Nah, dua yang sering bikin bingung adalah zero party data vs first party data. Kedua jenis data ini sama-sama jadi tren terbaru yang outstanding dalam pengumpulan data di dunia digital marketing!
Nah tapi jenis data mana sih yang lebih better dipakai biar bisa bikin strategi marketing jadi maksimal?
Tenang, kita bahas bareng yuk! Tanpa ribet dan tetap seru buat kamu yang newbie dalam dunia social media and digital marketing!
Di artikel ini, kita bakal mengenal lebih dalam tentang istilah “Zero Party Data” dan “First Party Data” serta perbandingan penerapan konsepnya.
Zero Party Data vs First Party Data: Apa Itu?
First Party Data
First Party Data adalah istilah untuk data yang dikumpulkan langsung dari interaksi audiens dengan platform atau media milik brand. Data ini sifatnya lebih implisit dan lebih fokus kepada interaksi atau aktivitas audiens pada brand.
Contohnya: data transaksi dari website, aktivitas user di aplikasi suatu brand, riwayat email, dan lainnya.
Zero Party Data
Zero Party Data adalah istilah untuk data yang secara sukarela diberikan oleh audiens, biasanya melalui survei, kuis, polling, atau preferensi yang mereka pilih sendiri Data ini sifatnya eksplisit banget karena sudah berdasarkan persetujuan.
Contohnya mereka bilang langsung ke brand seperti ini, “Aku suka produk X variant 1, karena cocok banget nih sama rambut ku yang gampang rontok. Biasanya sih, aku checkout produknya via online shop.”

Baca selengkapnya: Zero Party Data: Bikin Marketing Kamu Lebih Relevan dan Personal
Zero Party Data vs First Party Data, Kapan Ya Masing-masing Digunakan?
Zero party data vs first party data, kapan ya masing-masing tren data ini digunain secara tepat?
Gunain First Party Data waktu kamu ingin memahami pola perilaku, kebiasaan, dan aktivitas audiens secara umum: kapan mereka aktif, produk apa yang sering dicari, dll.
Cocok banget nih untuk kampanye remarketing target atau personalisasi konten yang berdasarkan histori dan behaviour.
Gunain Zero Party Data saat kamu butuh pemahaman yang lebih personal dan emosional tentang audiens: apa motivasi mereka beli, apa kebutuhan atau preferensi yang mereka butuhkan, platform apa yang mereka suka, atau preferensi strategi komunikasi mereka.
Yang ini cocok banget buat kamu yang main di strategi marketing berbasis loyalitas atau pingin bikin kampanye yang terasa lebih personal serta relevan.
Kamu Bisa Gunain Keduanya Berbarengan, Kombinasi!

Eits! Kalau kamu ngira kedua tren data ini hanya bisa dipakai sendiri-sendiri, maka kamu salah banget. Kamu bisa kombinasi dan gabungin keduanya berbarengan lho! Bukan zero party data vs first party data lagi ya!
Gabungkan zero party data dan first party data untuk hasil strategi digital marketing yang maksimal. Lets go ini dia caranya:
- Kumpulkan First Party Data dari awal interaksi: misalnya dengan tracking pixel atau analytics tools.
- Tambahkan elemen Zero Party Data secara bertahap: misalnya bisa lewat polling di Instagram, form atau survei singkat, atau yang lagi ngetren yaitu lewat kuis personality test!
- Pakai CRM untuk gabungin kedua data tersebut ke dalam satu profil pelanggan yang utuh.
- Segmentasi atau Buyer Persona audiens jadi lebih mudah: kamu jadi bisa bedain nih mana kategori audiens yang hanya sering lihat produk tanpa sampai ke tahap pembelian, dan mana yang benar-benar suka atau butuh sampai niat membeli.
Contoh: Brand shampoo bisa tahu nih, siapa audiens yang paling sering lihat produk varian terbaru mereka (first party data) dan siapa yang punya kebutuhan rambut mudah rontok dan lepek (zero party data).
Bayangin kalau kamu bisa kirim update atau rekomendasi mereka via email bulletin atau notif aplikasi brand kamu yang bilang:
“Produk ini cocok banget buat kamu yang punya masalah rambut mudah rontok sekaligus lepek. Kamu juga udah beberapa kali cek produk varian terbaru kami kan? Kamu bisa mulai mengatasi masalah rambut kamu dengan produk varian terbaru kami. Coba dan rasakan.”
Relevan dan personal banget, kan?
Baca selengkapnya: CRM : Cara Jago Kelola Hubungan Pelanggan, Intip Yuk!
Kombinasi Dua Tren Data yang Jadi Senjata Baru!
Nah konon katanya, platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook kini makin memperketat regulasi privasi dengan pelacakan data pihak ketiga.
Akibatnya? Zero Party Data vs First Party Data jadi senjata baru nih buat kamu yang mau boost strategi marketing di dunia social media and digital marketing.
Dengan kombinasi dua jenis data ini, kamu:
- Bisa bikin konten yang sesuai minat, preferensi, atau kebutuhan audiens sehingga konten jadi lebih relevan dan bisa ningkatin brand engagement
- Meningkatkan brand awareness dan loyalitas customer
- Mengurangi ketergantungan brand pada iklan berbayar yang targeting-nya kadang terbatas atau kurang tepat sasaran
Bahkan, magicnya lagi nih: dengan zero party data kamu bisa bikin konten UGC (User Generated Content) berdasarkan jawaban honest review audiensmu sendiri. Interaktif banget!
Zero Party Data vs First Party Data: Keduanya Unggul!

Zero party data vs first party data ini bukanlah soal mana yang lebih unggul, tapi tren data mana yang sesuai dengan strategi kamu dan bisa kamu manfaatkan di momen yang tepat.
Kalau kamu adalah digital marketer atau social media specialist newbie, kombinasi kedua tren data ini adalah cara yang paling cerdas buat kenal audiens mu secara menyeluruh. Dari mulai aktivitas apa yang mereka lakukan, apa kebiasaan mereka, sampai apa yang mereka fikirkan, rasakan, dan inginkan!
Nah kalau kamu tertarik belajar lebih lanjut tentang strategi marketing sekaligus tren data pelanggan yang efektif, ada Recademy yang jadi pilihan tepat Kursus Digital Marketing Bali!
Tentunya, sebagai ruang belajar dan kursus digital marketing di Bali untuk freelancer maupun business owner, Recademy bakal bantu kamu untuk upgrade skill sampai mempersiapkan portofolio di dunia digital marketing!
Jadi, udah siap kan buat belajar tren zero party data dan first party data sebagai senjata rahasia di dunia digital marketing?
Baca juga: