Halo, fellow Social Media Specialist! Lagi asyik scrolling TikTok atau Reels terus nemu konten yang bilang, “Jangan beli skincare X karena nggak worth it”? Nah, kamu baru saja terpapar tren yang namanya deinfluencing.
Sebagai orang yang baru terjun di dunia sosmed, kamu wajib banget paham fenomena ini. Kenapa? Karena ini bukan sekadar tren lewat, melainkan pergeseran cara Gen Z dan social media dalam berinteraksi. Yuk, kita bedah bareng-bareng!
Apa Sih Deinfluencing Itu?

Simpelnya, deinfluencing adalah kebalikan dari influencing tradisional. Kalau dulu kita terbiasa lihat influencer pamer barang baru dan bilang “kalian harus punya ini!”, sekarang justru sebaliknya. Para kreator justru jujur-jujuran bilang barang apa yang overrated, mahal doang tapi nggak fungsi, atau yang sebenernya nggak kita butuhin.
Istilah ini meledak karena adanya kejenuhan terhadap konsumerisme yang berlebihan. Gen Z mulai capek disuruh belanja terus-menerus, apalagi kalau barangnya ternyata zonk.
Kenapa Tren Deinfluencing Ini “Meledak” di Kalangan Gen Z?

- Haus Akan Keaslian (Authenticity): Gen Z punya “radar” yang kuat buat mendeteksi mana yang beneran bagus dan mana yang cuma iklan berbayar.
- Kondisi Ekonomi: Dengan isu inflasi dan harga barang yang naik, anak muda sekarang lebih selektif dalam mengeluarkan uang.
- Sustainability: Ada kesadaran untuk tidak menumpuk barang yang akhirnya jadi sampah (overconsumption).
Pengaruh Deinfluencing Terhadap Strategi Social Media
@isabellawrz Muji eyelash curler is 6 dollars and 10X better and that’s a fact #fyp #makeup #makeuprecomendation #deinfluencing
Sebagai calon Social Media Specialist, kamu nggak perlu takut sama tren ini. Malah, ini adalah peluang buat brand atau personal brand yang kamu pegang untuk tampil lebih manusiawi. Hubungan antara Gen Z dan social media sekarang berbasis pada trust, bukan sekadar estetika.
| Sebelum Deinfluencing | Era Deinfluencing |
| Fokus pada “Hard Sell“ | Fokus pada “Honest Review“ |
| Filtered & Perfect | Raw & Relatable |
| FOMO (Fear of Missing Out) | JOMO (Joy of Missing Out) |
Baca juga: Ini 5 Hot Trends Instagram 2026 yang Wajib Kamu Coba!
Tips Buat Para Social Media Specialist Pemula
Nah, gimana caranya menghadapi tren deinfluencing ini supaya performa akunmu tetap oke? Ini contekannya:
1. Prioritaskan Transparansi
Kalau kamu bekerja sama dengan influencer, jangan paksa mereka buat bilang “produk ini sempurna”. Biarkan mereka kasih ulasan yang jujur. Sedikit kekurangan yang diakui justru bikin audiens lebih percaya pada kelebihan produkmu.
2. Bikin Konten “Worth It or Not“
Jangan cuma jualan! Buatlah konten edukasi yang membantu audiens memilih. Misalnya, “3 alasan kenapa produk ini cocok buat kamu, dan 2 alasan kenapa kamu nggak perlu membelinya.” Gaya bicara yang smart dan fair begini bakal disukai banget.
3. Bangun Komunitas, Bukan Sekadar Pengikut
Di ekosistem social media, angka followers itu penting, tapi engagement dan kepercayaan jauh lebih mahal. Dengarkan apa kata netizen di kolom komentar. Kalau mereka bilang produkmu kurang oke di sisi A, jadikan itu bahan konten evaluasi yang transparan.
It’s Time to Authentic and Worth It, Belajar Social Media Specialist and Digital Marketing Bali di Recademy!
Tren Deinfluencing mengajarkan kita bahwa audiens sekarang sudah makin pintar. Mereka nggak butuh kesempurnaan, mereka hanya butuh kejujuran karena jujur sekarang jadi ninja path! Sebagai Social Media Specialist, tugasmu bukan lagi sekadar memoles citra supaya terlihat tanpa cela, tapi membangun koneksi yang nyata, relevan, dan relate antara brand dengan audiens.
Jadi, tunggu apalagi? Saatnya mulai belajar social media specialist and digital marketing Bali, dengan cara yang easy and applicable di Recademy – Kursus Digital Marketing dan Social Media Specialist Bali. Dengan Recademy, kamu bisa mulai anak tangga pertama mu sebagai future social media specialist dengan cara yang fun, mudah dipahami, dan langsung bisa diterapkan dengan study case yang relevan ditemani mentor-mentor muda expertise di bidangnya.
Cari tahu lebih lanjut tentang Kursus Digital Marketing di Bali dan temukan gimana Recademy bisa bantu kamu untuk sukses menyelami dunia digital marketing and social media lewat rangkaian kelas intensif yang bisa kamu sesuaikan!
Kalau kamu penasaran dan ingin tahu lebih lanjut tentang Recademy, kamu bisa banget nih buat tanya-tanya langsung lewat WhatsApp dan Contact Us yang tertera ya!
So, jangan anti-kritik ya! Manfaatkan momentum deinfluencing ini dari sekarang untuk nunjukkin bahwa brand yang kamu pegang itu solutif sekaligus aware pada kebutuhan audiensnya, bukan cuma peduli pada angka penjualan.
Baca juga:
- Repost Instagram: Sparks Baru Agar Brand Makin Meroket!
- Apa Beda KOL vs Affiliator? Cari Tau Biar Cocok sama Brandmu!
- Gimmick Marketing Open to Work Prilly Latuconsina